Monday, December 1, 2014

Cara Membuat Search Engine di Blog


Tentu kita semua sudah tahu apa itu Search Engine, Search Engine adalah mesin pencarian agar kita lebih mudah mencari judul ataupun kata2 yang berkenaan dengan blog kita. Search Engine merupakan contoh aplikasi dari Information Retrieval adalah proses menemukan bahan (biasanya dokumen) dari bersifat terstruktur (biasanya teks) yang memenuhi kebutuhan informasi dari dalam koleksi besar (biasanya disimpan di komputer).

Kemudahan dengan adanya search engine adalah kita bisa mencari tahu tentang suatu hal yang kita inginkan sesuai dengan keyword yang kita ketikkan, dalam hal ini adalah bagaimana caranya membuat search engine di blogger.

Caranya dengan cara manual yang biasa banyak dipakai oleh para Blogger, yaitu :

1. Login ke blogger terus klik Layout




2. Terus pilih Elemen Halaman kemudian disitu ada tulisan Tambah gadget klik link tersebut dan sesuaikan dimana tempatnya menaruh search engine



3. Kemudian pada layar baru yang muncul pilih HTML/Javascript

kemudian copy/paste script/kode berikut ini di dalam kolom konten.

<form action="http://nama-blog.blogspot.com/search" method="get"> <input class="textinput" name="q" size="30" type="text"/> <input value="search" class="buttonsubmit" name="submit" type="submit"/></form>




Ganti nama-blog dengan nama blog anda.. Contoh menjadi culturexotic.blogspot.com
jika telah diganti, dan telah copy/paste kodenya maka klik "save"

maka setelah itu akan muncul search engine seperti berikut di tempat yang telah ditentukan


maka setelah muncul tampilan di atas berarti kita telah bisa membuat search engine di blog. Terima kasih :)

Batik Indonesia Menjadi Warisan Budaya Dunia





Batik merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang sangat membanggakan. Dahulu, batik menunjukan status sosial pemakainya. Lantaran tradisi membatik diwariskan turun temurun dalam keluarga, sehingga memiliki corak batik mewakili keluarga tertentu.


Seiring perkembangan zaman, corak batik semakin beragam, bahkan batik sudah merambah dunia fashion modern. Budaya batik di Indonesia juga sudah dikenal masyarakat dunia. Karenanya, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi atau Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, sejak tanggal 2 Oktober, 2009.

Budaya batik di Indonesia tidak hanya terdapat pada suku Jawa, melainkan hampir terdapat pada seluruh suku dan etnis yang ada. Seperti Batik Bali, Batik Madura, Batik Tasik, Batik Banten, Batik Betawi, Batik Minangkabau dan masih banyak lagi.

Kini generasi muda di Indonesia cukup bangga mengenakan pakaian bermotif batik. Malah menjadi tren dalam beberapa fashion. Bahkan ada yang membawakan batik pada ajang fashion show di manca negara. Seperti ajang fashion shom di New York Amerika Serikat pada November 2013.

Seiring perkembangan fashion batik, bahan dasar untuk batik juga bertambah banyak. semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Kini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya.

Pesta Bakar Batu Tradisi dari Daerah Papua

Dengan letak geografis berada di daerah paling timur Indonesia, Papua bukan saja memiliki kekayaan alam melimpah, namun juga budaya yang cukup eksotis dan masih cukup melekat dalam kehidupan masyarakatnya.  




Salah satu budaya yang sampai saat ini masih terjaga dan dijalani masyrakat adat Papua adalah Bakar Batu. Tradisi ini masih terpelihara karena mempunyai makna tersendiri bagi warga Papua.



Banyak makna yang terkandung dalam Budaya Bakar Batu, antara lain sebagai wujud rasa syukur terhadap limpahan berkat, rezeki, acara pernikahan, penyambuan tamu besar. Pesta ini juga diadakan sebagai upacara kematian dan merupakan ritual tradisi. Bukan hanya itu saja, pesta bakar batu ini juga kerap digunakan sebagai simbol perdamaian setelah perang antar suku.


Dalam acara ini akan terlihat bagaimana hubungan solidaritas dan kebersamaan di antara warga Papua. Selain itu, tradisi ini juga mempunyai makna lain yaitu sebagai ungkapan untuk saling memaafkan antar warga.

Proses Bakar Batu

Apa sih sebenarnya Bakar Batu itu? Bakar Batu merupakan sebuah cara yang digunakan warga Papua dalam memasak dan mengolah suatu jenis makanan dalam pesta tertentu.

Setiap suku maupun daerah di Papua memiliki sebutan tersendiri untuk tradisi ini. Sebagai contoh, masyarakat Paniai menyebutnya dengan gapii atau mogo gapii. Masyarakat Wamena menyebutnya kit oba isago, sedangkan masyarakat Biak menyebutnya dengan istilah Barapen. Namun istilah yang paling umum digunakan untuk Tradisi Bakar Batu ini ialah Barapen.

Dalam pelaksanaannya, pesta Bakar Batu diawali dengan mencari kayu bakar dan batu oleh kaum pria.  Selanjutnya batu dan kayu bakar yang telah dikumpulkan tadi disusun dengan urutan batu-batu berukuran besar diletakkan pada bagian paling bawah, kemudian bagian atasnya ditutupi dengan kayu bakar.

Kemudian, disusun lagi batu-batu dengan ukuran yang lebih kecil hingga bagian teratas ditutupi dengan menggunakan kayu. Barulah selanjutnya tumpukan batu dan kayu tersebut dibakar hingga batu menjadi panas.

Setelah batu menjadi panas, setiap suku menyerahkan babi dan secara bergiliran setiap kepala suku memanah babi tersebut.

Prosesi memanah ini juga mempunyai makna tersendiri. Apabila dalam sekali panah babi tersebut langsung mati, maka hal ini menandakan bahwa acara tersebut akan sukses. Namun sebaliknya, jika babi tersebut tidak langsung mati, maka diduga sesuatu yang tidak beres akan terjadi pada acara tersebut.

Jika tujuan acara bakar batu ini adalah untuk upacara kematian, maka prosesinya beda lagi. Dalam hal ini, beberapa kerabat membawa babi sebagai tanda belasungkawa mereka. Jika tidak membawa babi, mereka akan membawa bungkusan yang berisi tembakau, rokok kretek, kopi, garam, gula, minyak goreng dan ikan asin. Hal lain yang dilakukan yaitu ketika mengucapkan belasungkawa, maka masing-masing harus berciuman pipi dan berpelukan erat.

Saat kaum pria menyiapkan babi yang akan dbakar, kaum wanita akan menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan dimasak. Hewan ini kemudian dibelah, mulai dari bagian bawah leher sampai kaki belakang. Isi perut yang tidak dimakan akan dibuang dan yang akan dimakan maka harus dibersihkan terlebih dahulu. Begitu juga dengan sayur-sayuran dan umbi-umbian yang akan dimakan.

Kaum pria juga menyiapkan sebuah lubang yang besarnya disesuaikan dengan banyaknya makanan yang akan dimasak. Kemudian lubang tersebut dilapisi dengan alang-alang serta daun pisang.

Dengan menggunakan apando yaitu jepit kayu khusus, batu-batu yang telah panas tadi pun dipindahkan dan didudu di atas daun-daunan tadi. Setelah itu dilapisi lagi dengan alang-alang. Barulah di atasnya dimasukkan daging babi. Selanjutnya, babi bakar tersebut ditutup lagi dengan daun-daunan. Tak lupa setelah itu, batu-batu panas kembali diletakkan di atasnya dan dilapisi lagi dengan menggunakan rumput-rumputan yang tebal.

Umbi-umbian dan sayur-sayuran yang telah disiapkan tadi pun diletakkan lagi di atasnya dan kembali ditutup dengan daun-daunan. Terakhir barulah menaburinya dengan tanah dengan tujuan agar panas yang berasal dari batu tidak menguap. Kemudian menunggu sekitar 60 sampai 90 menit sampai daging babi matang dan tidak lupa untuk memberikan garam dan penyedap rasa.

Setelah semuanya siap, tibalah saatnya bagi warga untuk makan bersama menyantap hidangan babi tersebut. Semua penduduk akan dan berkerumun mengelilingi makanan tersebut.

Dalam hal ini, kepala suku akan mendapat jatah pertama, barulah selanjutnya diikuti oleh semua orang baik pria, wanita, orang tua, maupun anak-anak.

Terlepas dari makna dan tujuan pesta bakar batu sebagi ritual, tradisi ini mengajarkan kehidupan sosial yang ditandai dengan solidaritas, kebersamaan, dan kerjasama yang baik. Satu tradisi yang patut dicontoh untuk menuju Indonesia Hebat.

Sunday, November 30, 2014

Kesenian Tari Reog Ponorogo



Satu diantara banyak seni tarian di Jawa Timur yang masih terus dilestarikan adalah reog. Seni ini berasal dari bagian barat laut. Ponorogo dianggap sebagai kota asal reog sebenarnya, sehingga disebut dengan Reog Ponorogo. Salah satu budaya Indonesia ini kental dengan hal-hal berbau mistis, sehingga sering diidentikkan dengan dunia hitam, dunia kekuatan supranatural. Permainan seni reog selalu diiringi dengan musik tradisional atau disebut juga dengan gamelan. Peralatan musik yang biasanya digunakan sebagai pengiring reog yaitu gong, terompet, kendang, ketipung, dan angklung.





Masyarakat biasanya mementaskan reog saat acara khitanan, pernikahan, hari-hari besar nasional, dan festival tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Ponorogo. Festival tersebut terdiri dari Festival Reog Nasional, Festival Reog Mini Nasional dan Pertunjukan pada Bulan Purnama yang diselenggarakan di alun-alun Ponorogo. Festival Reog Nasional selalu dilaksanakan setiap tahun menjelang bulan Muharam atau dalam traidisi Jawa disebut dengan bulan Suro. Pertunjukan ini merupakan rentetan acara–acara Grebeg Suro dan Ulang Tahun Kota Ponorogo.


Grebeg Suro merupakan event budaya tersebar di kabupaten Ponorogo yang diselenggarakan dalam rangka menyongsong Tahun Baru Islam atau Tahun baru Saka yang sering dikenal sebagai tanggal satu Suro. Pagelaran kesenian Reog akbar ini bertaraf nasional sehingga pesertanya pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan pernah yang berasal dari luar negeri. Pertujukan ini menjadi salah satu andalan pemerintah daerah Ponorogo dalam meningkatkan daya tarik bagi wisatawan lokal maupun manca negara.


Demikian pula dengan dengan Festival Reog Mini tingkat nasional. Seluruh pesertanya adalah generasi muda atau golongan remaja. Mereka rata–rata masih duduk dibangku sekolah di tingkat SD atau SMP. Mereka adalah generasi penerus kesenian Reog yang nampaknya semakin berkembang. Pola kegiatannya hampir sama dengan Festival Reog Nasional, hanya saja yang berbeda adalah peserta, selain itu waktu pelaksanaannya adalah bulan Agustus.


Agenda pertunjukan kesenian reog yang lain dan tak kalah ramai dari pengunjung adalah pertunjukan Reog Bulan Purnama. Pentas ini rutin dilaksanakan bertepatan dengan malam bulam purnama. Peserta dari pentas ini adalah grup–grup lokal yang diwakilkan melalui kecamatan – kecamatan. Biasanya pentas ini disertai dengan beberapa pertunjukan tari garapan dari Sanggar seni di ponorogo atau kesenian lainnya.



Pementasan Reog Ponorogo


Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian dua sampai tiga tarian pembukaan. Enam sampai delapan pria gagah berani dengan pakaian serba hitam dan muka dipoles warna merah membawakan tarian pertamanya. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Selanjutnya enam sampai delapan gadis yang menaiki kuda melanjutkan tarian reog. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki berpakaian wanita. Biasanya, sebagai tarian pembukanya, beberapa anak kecil membawakan tarian dengan berbagai adegan lucu. Tarian ini disebut Bujang Ganong atau Ganongan.


Setelah mereka membawakan tarian pembukaan, ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka mereka menampilkan adegan percintaan. Bila acara khitanan, biasanya cerita pendekar.


Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang, kadang-kadang dengan penonton. Terkadang bila seorang pemain yang sedang pentas kelelahan dapat digantikan oleh yang lain. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penonton. Adegan terakhir adalah singa barong. Pemain memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topengnya bisa mencapai 50-60 kg. Mereka membawa topeng tersebut dengan giginya. Kemampuan membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diperoleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.



Asal Mula Reog


Meski terdapat berbagai versi terkait asal mula reog, tapi cerita yang paling populer dan berkembang di masyarakat adalah cerita tentang pemberontakan seorang abdi kerajaan pada masa kerajaan Majapahit terakhir Bhre Kertabhumi yang bernama Ki Ageng Kutu Suryonggalan. Bhre Kertabhumi merupakan raja Majapahit yang berkuasa pada abad ke-15. 


Raja ini sangat korup dan tidak pernah memenuhi kewajiban layaknya seorang raja, sehingga membuat Ki Ageng Kutu murka kepada sang raja. Apalagi terhadap permaisurinya yang keturunan Cina itu memiliki pengaruh kuat terhadap kerajaan. Bukan hanya itu saja, rekan-rekan permaisurinya yang keturunan Cina mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Ki Ageng Kutu memandang, kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Lalu dia meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan yang mengajarkan seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan kepada anak-anak muda. Harapannya, anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sukur-sukur bisa melakukan perlawanan terhadap kerajaan.


Hanya saja, Ki Ageng Kutu menyadari, bahwa pasukannya terlalu kecil melakukan perlawanan terhadap pasukan kerajaan. Maka dari itu, Ki Ageng Kutu hanya bisa menyampaikan pesan dan sindirian melalui pertunjukan seni Reog. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog. Seni reog digunakan oleh Ki Ageng Kutu sebagai sarana mengumpulkan massa untuk melakukan perlawanan terhadap kerajaan. Hal terpenting adalah sebagao saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu untuk menyindirnya. 


Dalam pertunjukannya, ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai Singa barong. Kemudian topeng berbentuk raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi. Diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya. Jatilan, diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit. Ini menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tokohnya disebut dengan Jathil. Sementara Warok adalah orang yang memiliki tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih.


Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya. Pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Meski begitu, kesenian Reog sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu. 


Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning Namun, di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan "kerasukan" saat mementaskan tariannya. 


Versi lainnya mengenai asal-usul Reog adalah cerita tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya. Sang Prabu ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia bernama Pujangganong. Sang prabu menemukan pujaan hatinya, ia jatuh hatu kepada putri Kediri yang bernama Dewi Sanggalangit. Putri Kediri ini mau menerima Prabu Kelana asal dengan satu syarat, sang prabu harus bisa menciptakan sebuah kesenian baru. Diciptakanlah kesenian tersebut yang dikenal dengan reog dengan memasukan unsur mistis yang kekuatan spiritual, sehingga memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.


Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku. 


Namun, perubahan zaman dan perilaku manusia menyebabkan terjadinya pergeseran makna yang terkandung dalam kesenian Reog Ponorogo. Masyarakat Ponorogo saat ini mengganggap kesenian reog merupakan pelengkap dari sebuah acara atau hanya berupa sebuah hiburan saja. Misalnya pementaasan reog dilombakan pada acara-acara tertentu untuk memeriahkan acara tersebut, salah satunya perlombaan dalam festival.


Budaya Suku Jawa Indonesia yang sangat Beragam


Budaya Suku Jawa Indonesia merupakan sebuah budaya yang dianut oleh semua masyarakat suku jawa meliputi, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY. Secara garis besar budaya jawa terbagi menjadi tiga budaya yaitu budaya DIY dan Jawa Tengah, budaya Banyumas, dan Budaya Jawa Timur. 


Di dalam budaya Jawa selalu menjunjung tinggi tentang kesopanan bertingkah dan bertutur serta cenderung menjunjung kesederhanaan. Selain budaya suku Jawa terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY budaya jawa juga terdapat di daerah perantauan orangjawa seperti Jakarta, Sumatera.
Budaya yang dianut oleh suku jawa ini menjadi salah satu budaya Indonesia yang disukai oleh masyarakat manca negara. Kebanyakan orang diluar negeri tertarik dengan seni Wayang Kulit, Gamelan,dan seni Batik. Budaya jawa dikatakan sebagai budaya unik karena terbagi menjadi dua bahasa yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Madya Krama. Budaya Jawa identik dengan feodal dan sinkretik karena suku Jawa selalu menghargai semua agama serta pluralitas.
Budaya Suku Jawa Indonesia menghasilkan agama sendiri yang dinamakan kejawen. Kejawen merupakan sebuah kepercayaan yang didalamnya terdapat tradisi / adat,  seni budaya, dan filosofi suku jawa. Kejawen memiliki arti spiritualistis Jawa yang pada jaman dahulu menjadi satu – satunya agama yang dianut oleh masyarakat suku jawa di masa prasejarah. Pada Jaman kerajaan, suku Jawa banyak yang menganut agama Hindu dan Budha bahkan mereka menyebarkan agama Hindu maupun Budha ke beberapa kerajaan di daerah Jawa seperti kerjaan majapahit, dan kerjaan singosari.
Namun saat ini suku Jawa mayoritas menganut agama Islam dan sebagian kecil menganut agama Kristen, dan Hindu. Dengan demikian suku Jawa terbagi menjadi tiga golongan besar diantaranya adalah golongan Priyayi, Santri, dan Abangan. Sejarah sastra pada suku Jawa dimulai dari bahasa prasasti yang menggunakan aksara jawa/ bahasa jawa kuno. Pada jaman sejarah, prasasti pertama kali ditemukan di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur.
Dalam sejarahnya sastra Jawa terbagi menjadi empat masa yaitu Sastra Jawa Kuno, Sastra Jawa Tengahan, Sastra Jawa Baru, dan Sastra Jawa Modern. Bahasa yang digunakan pertama kali adalah aksara jawa atau disbut dengan hanacaraka dan hingga saat ini aksara jawa tetap digunakan. Pada masa sejarah agama islam lebih tersebar dan semakin berkemband dan saat itu huruf araf sempat digunakan sebagai sastra bahasa yaitu dinamakan dengan huruf pegon. Ketika Indonesia dijajah oleh negara Eropa termasuk tanah Jawa abjad latin digunakan dalam menulis bahasa Jawa. Hingga saat ini bahasa Jawa digunakan oleh suku Jawa yang berdomisili di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.
Selain Budaya Suku Jawa Indonesia memiliki banyak seni budaya yang mengandung unsur Jawa tulen. Banyaknya kerajaan yang berdiri ditanah Jawa pada jaman sejarah menjadi salah satu budaya asli yang diwariskan oleh negara Indonesia. Kemudian suku Jawa memiliki banyak kesenian budaya yang masih terjaga dengan baik hingga saat ini. Seperti kesenian Reog yang berasal dari ponorogo Jawa Timur dan hingga saat ini masih sering diadakan pertunjukkan reog setiap tanggal satu suro sebagai persembahan syukur warga masyarakat daerah ponorogo.
Kemudian kesenian tari yang dikembangkan pada remaja sebagai generasi baru dalam mempertahankan budaya seni tari di Jawa. Seni tari yang hingga saat ini terjaga dengan baik dan paling di sukai masyarakat Jawa adalah Tari Remo berasal dari daerah Jawa Timur. Banyaknya seni budaya yang masih terjaga dengan baik dan semakin dilestarikan menjadi cirikhas dari suku Jawa.

Kesenian Wayang Kulit yang Mendunia


Kesenian Wayang Kulit merupakan budaya Indonesia yang berasal dari Jawa dan berhasil terkenal hingga di tanah manca negara. 

Wayang merupakan seni budaya yang menonjol di bangsa Indonesia jika dibandingankan dengan seni budaya lainnya. Dalam seni budaya wayang mencakup seni musik, seni suara, seni peran, seni tutur,seni lukis, seni sastra, hingga seni perlambangan. Kesenian watang sebagai budaya Indonesia semakin berkembang lebih pesat dari tahun – tahun ke tahun. Penduduk Indonesia diharuskan mengenal seni wayang serta nama – nama tokoh dalam wayang. Kesenian wayang dpat dijadikan sebgai media penerangan, pendidikan, dakwah, pemahaman filsafat Jawa, dan terutama sebagai hiburan. Jika ditanah Jawa wayang kulit termasuk salah satu pertunjukkan seni sebagai adat di suatu daerah tertentu.


Di Malang Jawa Timur misalnya ketika upacara di tanggal 1 suro selalu diiringi dengan pertunjukkan wayang sebagai adat yang harus dilaksanakan setiap tahun. Pada upacara adat tersebut dilakkukan larung sesaji di pantai segoro kidul sebagai persembahan untuk nyi roro kidul masyarakat meyakini dengan upacara tersebut akan terhindar dari bencana. Keberadaan seni wayang kulit sudah sejak lama sebelum agama Hindu masuk ke pulau Jawa. Karya seni wayang kulit ini merupakan adaptasi dari karya sastra India yaitu Mahabarata dan Ramayana. Kedua induk cerita tersebut dalam pewayangan diubah serta ditambahkan dengan menyesuaikan falsafah asli Indonesia.

Sejarah Kesenian Wayang Kulit ini berasal dari pula jawa yaitu Jawa Timur yang semakin berkembang di Indonesia baik di Jawa Timur dan Jawa Tengah bahkan Bali. Seni wayang memiliki kaitan yang sangat erat dengan keadaan realigi dan sosiokulturan kebudayaan Jawa. Seperti tokoh Punokawan tokoh ini merupakan sangat penting dalam pertunjukkan wayang. Punokawan terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong keempatnya memiliki peran penting dalam pewayangan. Kemudian istilah teknis pewayangan secara keseluruhan berasal dari bahasa Jawa kuno (Ngoko, Madyakrama). Sejak tahun 1951 buku pewayangan diterbitkan dan menyatakan bahwa wayang memang kesenian asli dari budaya Indonesia yang berasal dari tanah Jawa. Budaya wayang lahir sejak masa pemerintahan Prabu Airlangga yang merupakan Raja kerjaan Kahuripan kerajaan yang ada di Jawa Timur.
Karya sastra yang akan digunakan pada jalan cerita wayang dirulis oleh pujangga Indonesia berasal dari tanah jawa sejak abad  X. Salah satu naskah yang tertulis Kitab Ramayana Kakawih dengan tulisan bahasa Jawa Kuno atau huruf Hanacaraka. Selain itu pujangga jawa juga mnerjemahkan kisah Mahabarata dan Ramayana dari bahasa India ke dalam bahasa Jawa Kuno. Meskipun mengubah dari bahasa India kedalam bahasa Jawa dalam menceritakan kembali lebih menambahkan dengan memasukkan falsafah budaya Jawa ke dalamnya. Misalnya , Karya Empu Panuluh, Empu Kanwa Arjunawiwaha, dan Empu Sedah. Terdapat juga karya agung yang dikerjakan oleh Prabu Jayabaya (Raja Kediri).
Kesenian Wayang Kulit sebagai suatu pagelaran seni budaya yang menjadi hiburan sejak jaman kerajaan Raja Airlangga. Pada masa itu terdapat prasasti dengan berisi tulisan mawayang dan aringgit yang berarti pertunjukkan wayang. Kata wayang berasal dari wewayangan yang artinya bayangan. Jadi dalam sebuah pertunjukkan wayang kulit selalu menggunakan secarik kain berwarna putih sebagai pembatas dan ketika wayang tersebut dimainkan terdapat bayangan yang tampak jelas pada kain pembatas tersebut. Dengan demikian penononton menyaksikan bayangan dari wayang yang ada pada kain terseut itulah sebabnya kata wayang berarti bayangan. Menariknya kesenian wayang selalu diiringi dengan musik gamelan tradisonal khas budaya Jawa. Kesenian wayang lebih terlihat unsur Jawa karena cerita – cerita pada pertunjukkan wayang menyangkut tentang leluhur kerajaan Majapahit.